Imam Abu Hanifah apabila mendapatkan suatu kesulitan dalam sebuah masalah, maka dia mengatakan kepada para sahabatnya: “Tidaklah hal ini terjadi kecuali karena dosa yang saya lakukan!!”. Setelah itu dia beristighfar dan melakukan sholat, sehingga tersingkaplah kesulitan tersebut, kemudian beliau mengatakan: “Semoga Allah menerima taubatku!!”.

Tatkala khabar ini sampai kepada Fudhail bin Iyadh, beliaupun menangis sejadi-jadinya seraya berkata: “Hal itu karena sedikitnya dosa beliau! Adapun orang selainnya, mereka tidak memperhatikan hal ini!!”. (Thobaqot Hanafiyyah, Al Qori 2/487)

Ibnu Subaih berkata: “Pernah ada seorang datang mengadu kepada Hasan Bashri akan kemarau yang berkepanjangan, maka beliau berkata kepada orang tersebut: “Perbanyaklah istighfar/ minta ampun kepada Allah!”, Ada orang datang lagi mengeluhkan kemiskinan yang menimpanya, maka beliau berkata kepadanya: “Perbanyaklah istighfar kepada Allah!”.

Orang ketiga datang mengadu seraya berkata: “Tolong doakan saya agar dikarunia anak!”. Beliaupun menjawab: “Perbanyaklah istighfar kepada Allah!”. Orang keempat datang juga mengeluhkan kebunnya yang gersang, beliaupun tetap berkata: “Perbanyaklah istighfar kepada Allah!”. Kamipun heran akan jawabannya yang selalu itu tak berubah dan menanyakannya kepada beliau, lalu beliau berkata: “Jawaban itu bukan dariku, bukankah Allah telah berfirman dalam surat Nuh: 10-12:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)

Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun” niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Tafsir Qurthubi 18/261)

Alangkah indahnya kisah Sirri as-Saqthi, di mana beliau selalu istighfar (memohon ampun) kepada Allah selama tiga puluh tahun lamanya karena ucapannya “Alhamdulillah” saat ada kebakaran di kota Baghdad yang melenyapkan rumah-rumah dan toko-toko di sana, namun sampai berita kepadanya bahwa tokonya selamat dari jilatan si jago merah sehingga dia pun memuji Allah.
Akan tetapi, dia kembali intropeksi dan meralat sikapnya seraya mengatakan pada dirinya, “Seharusnya aku sedih atas musibah yang menimpa saudara-saudaraku yang beriman lainnya, bukan malah mengucapkan Alhamdulillah.” (al I’lam bi Fawaid Umdatil Ahkam 1/85 kry Ibnul Mulaqqin)

Subhanallah, alangkah indahnya akhlak mereka! Dan alangkah sucinya hati mereka. Mereka tidak rela untuk menari di atas penderitaan orang lain. Semoga Allah memberikan secercah cahaya kepada kita untuk bisa meniru akhlak indah mereka.